sebagai anak semata wayang alias anak tunggal saya sering merasakan kesepian. Tanpa diduga dan kapan waktunya, suasana hati berubah menjadi sunyi senyap. Kosong! Hal ini sudah saya rasakan sejak saya duduk di bangku SD. Yang dapat mengisi kekosonganku adalah sahabat-sahabat dekat ku. Seperti pada umumnya hobi dan rutinitas anak kecil adalah bercanda dan bermain bersama kawan-kawan. Ketika pagi menjelang, saya begitu bahagia sebab kerinduan untuk berkumpul dengan kawan-kawan terlaksana juga akhirnya. Saya ngga peduli dengan badan saya yang bau karena belum mandi (bangun tidur langsung main), sampai eyang putri mencari dan menseret saya untuk dimandikan kemudian harus melahap sarapan pagi. Ketika senja menyongsong, hati perlahan-lahan sunyi senyap sebab kita harus berpisah.
Hubungan saya lebih dekat dengan eyang putri (Ibu dari Ibuku) dibandingkan dengan ke dua orangtuaku. Hal ini terjadi karena ke dua orangtua ku jarang berada di rumah. Mereka merantau di Sumedang Jawa Barat. Saya sebenarnya sejak umur lima tahun sampai umur sembilan tahun diasuh dan disusui oleh eyang putri satuku lagi (Ibu dari Bapak ku). Saya baru mengenal sosok seorang ayah yang begitu jelas ketika waktu itu saya 15 tahun (SMA), karena alasan eyang putri sudah sepuh maka Bapak memutuskan untuk tinggal di rumah untuk menjaga eyang. Dengan begitu, saya bisa mengenal sosok Bapak saya yang terkadang membuat saya bingung akan dirinya. Kenapa bingung? sebab Ayah menunjukan rasa sayangnya dengan cara aneh (memberi barang) padahal yang saya inginkan lebih dari itu (perhatian, saran, kasih sayang). Yang lebih menyebalkan Bapak adalah sosok otoriter dan overprotective. Saya merasa seperti robot yang selalu dikendalikan dan dibatasi ruang gerak, bahkan dalam urusan pergaulan. Sehingga, lambat laun saya sulit bergaul dengan teman kampung. Lama-lama sahabat dekatku sejak kecil semakin menjauh.
Ruang pergaulan dan ruang gerak ku aku habiskan di rumah, sekolah, tempat les, rumah, sekolah, tempat les dan begitu seterusnya.....otomatis sahabatku ya berasal d ari sekolah dan tempat les juga...dan tentu saja pergaulan di lingkungan seperti itu ngga potentisal untuk menjaring persahabatan (persaudaraan) yang lama sebab ngga dapat kita hindari kalau moment kelulusan akan menghampiri kita. Di saat kelulusan tiba, tentu saja rasa sepi itu menyayat hati saya lagi. Saya kehilangan sahabat-sahabat terbaiku . Bagiku sahabat dekat saya anggap sebagai saudara kandung, sebagai pengisi kekosongan hatiku...
Melalui pengalaman itu, ketika saya masuk bangku kuliah saya memutuskan untuk berhati-hati dalam menjalin persahabatan. Di dalam mindshet saya, saya tanamkan bahwa saya tidak akan masuk ke dalam lingkaran persahabatan. Saya menganggap teman sebagai teman biasa tidak lebih dari itu. Saya tertutup. Tidak mau blak-blakan. Bahkan, di saat saya terpuruk saya hanya berdiam diri di kamar, menangis dalam larutan doa, kemudian tidur untuk menata suasanan hati. Banyak dari teman kuliah saya menganggap saya sebagai orang sombong dan aneh. Mafkan aku teman...bukan niatku begitu. Maafkan aku disaat aku menolak uluran tangan kalian...aku hanya ngga ingin terjebak dalam jeratab mengecewakan seperti jaman dahulu.
Tapiii.....kini aku terjebak lagi...tanpa sadar ada orang yang sifatnya mirip kaya aku, kehidupannya mirip kaya aku, mindshet dan pikirannya kaya aku, impiannya kaya aku bahkan bulan dan tanggal lahirnya sama dengan aku...dia sosok sahabat sejati yang baik, penolong, baik hati...tanpa aku sadar jiwa persahabatan dan persaudaraanku muncul kembali. Dalam batinku dia aku anggap sebagai saudaraku. Di saat kita berbeda pendapat dan bertengkar, kemudian lambat laun kita baikan lagi. Kita saling bantu-membantu. Aku tahu kelebihan dan kekurangan dia, makanya aku berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan memberikan pertolongan yang aku punya...tapi dalam hatiku sedih sebab dalam kenyataanya dia bukanlah saudaraku. hanya teman. mulai sekarang saya merasa khawatir kalau terjadi apa apa dengan dirinya karena dia orang yang baik dan aku ngga bakalan rela kalau dia terpengaruh oleh lingkungan. Setiap aku sholat, selalu aku doakan kesuksesan bagi dirinya...Aku tahu betul apa ambisi dirinya..
Tapiiii....di sisi lain, saya takut kehilangan sebab beberapa semester lagi kita akan lulus...Ketakutan yang selalu memenuhi otaku...YOU ARE MY BEST FRIEND....
Aku lambat laun harus bisa sendiri, aku ngga boleh tergantung ama orang lain...aku sekarang berusaha keras untuk menutupi kesepianku dengan mempedulikan diriku sendiri dan berusaha menjadi orang kaya untuk mendirikan sebiah PANTI ASUHAN dan YAYASAN YAYASAN SOSIAL lainnya. Dengan memberi dan membantu, aku NGGA BAKALAN KESEPIAN LAGI! Aku yakin dengan begitu aku akan mendapatkan banyak kebahagiaan. AMIIIN...........